Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Prajurit TNI Berdarah Tionghoa Ini Punya Semburan Jarum Berbisa

Prajurit TNI Berdarah Tionghoa Ini Punya Semburan Jarum Berbisa

Page Visited: 1751
Read Time:3 Minute, 33 Second

Serma Djoni Matius, Prajurit TNI Denjaka Indonesia Ini Berdarah Tionghoa Jago Bela Diri yang Punya Semburan Jarum Berbisa. Sosok Sersan Mayor KKO Purn. Djoni Matius atau lebih dikenal dengan nama Djoni Liem.

Putra kelahiran Bandung, Jawa Barat, 3 April 1934 (86 tahun) adalah seorang Purnawirawan TNI Angkatan Laut berdarah Tionghoa dengan nama aslinya Liem Wong Siu. Ia merupakan salah satu tokoh dalam Operasi Dwikora bersama Kapten KKO Winanto (Komandan IPAM saat itu-Red).

Saat ini Djoni tinggal bersama istri Djeni Nani yang memiliki nama Tionghoa Tan Mei Hiang asli dari Singapura, ia saat ini tinggal di Jl. Kembang Kuning Kulong Gg. Besar 18 Surabaya, Jawa Timur.

Ia berasal dari Satuan Intai Amfibi Korps Marinir. Djoni memiliki julukan Semburan Mulut Berbisa. Sebab djoni bisa meluncurkan jarum, mata kail pancing, silet dan beras dari mulutnya dengan jarak kurang lebih sekitar 30 meter.

Baca juga : Prajurit TNI Cegat Tank Israel Jadi Perbincangan Dunia

Saat Indonesia aktif dalam penumpasan pemberontakan Operasi Dwikora, PRRI/Permesta, DI/TII, G30S, RMS hingga Operasi Tempur di Aceh dan Operasi Seroja di Timor Timur, Djoni sigap di garis depan.

Baca Juga :  Mahfud MD Sebut Koruptor Dana Covid-19 Bisa Dihukum Mati
Prajurit TNI Berdarah Tionghoa Ini Punya Semburan Jarum Berbisa

Ada cerita menarik saat ada Operasi Dwikora (Dwi Komando Rakyat) tahun 1964. Saat itu atasan Serma Djoni, bertanya siapa yang mau gabung menjadi Sukarelawan Indonesia. Waktu itu teman-nya tidak ada yang angkat tangan, hanya ia yang berani, walau dengan resiko yang besar. Karena jika hilang tidak akan dicari, dan kalau tertangkap harus ganti nama, dan tak boleh sebut dari satuan manapun. Hidup mati urusan sendiri-sendiri.

Operasi Dwikora adalah bentuk perlawanan Indonesia atas keinginan Federasi Malaya menggabungkan Brunei, Sabah, dan Serawak untuk jadi Federasi Malaysia.

Menurut Presiden RI Soekarno, keinginan membentuk Federasi Malaysia itu melanggar Persetujuan Manila. Apabila keputusan Sabah, Serawak, dan Brunei untuk bergabung dengan Federasi Malaysia adalah hasil referendum yang dimediasi oleh PBB, Indonesia pasti menerima.

Tapi ternyata sebelum hasil referendum dipublikasikan, Inggris mencoba mendahului penggabungan koloninya di Kalimantan (Sarawak dan Borneo Utara), Brunei, Singapura, dan Semenanjung Malaya untuk membentuk Federasi Malaysia. Indonesia dan Filipina menentang keras ide tersebut.

Baca juga : Mahfud MD Kunjungi Kopassus Akan Libatkan TNI Tangani Terorisme

Puncaknya pada tanggal 17 September 1963, ada aksi demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia. Para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Sukarno, serta membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman (Perdana Menteri Malaysia saat itu) dan memaksanya untuk menginjak Garuda.

Baca Juga :  Benarkah Mahasiswa di Jakarta Gelar Demo Tuntut Jokowi Turun Presiden ?

Melihat penghinaan tersebut, Soekarno pun menginstruksikan gerakan Ganyang Malaysia yang bersejarah.

Serma Djoni ingat betul saat itu 17 Agustus 1964 Presiden Soekarno memerintahkan Ganyang Malaysia. Posisinya saat itu sudah masuk wilayah Johor. Selama dua tahun ia ditempatkan di Singapura untuk bersiap-siap. Begitu Pak Karno perintah ganyang Malaysia, merekan akan perang saat itu juga. Habis-habisan.

Di tubuh Serma Liem terdapat lima puluh bekas luka tembak. Bahkan sampai sat masih ada satu proyektil peluru yang bersarang di pinggulnya.

Dokter yang merawatnya mengatakan kalau diambil akan mempengaruhi saraf, maka sampai saat ini tetap dibiarkan saja.

Tak hanya luka tembak yang bertubi-tubi, mental, keberanian, bukti kesetiaan Djoni Liem pada Indonesia. Kesetiannya juga diuji saat dia tertangkap dan menjadi tawanan perang tentara Inggris selama 2,5 tahun di Sulawesi.

Saat menjadi tawanan Inggris Ia disidang sebanyak 42 kali. Tangan dan kakinya diborgol. Namun tak satu pun pertanyaan itu diakuinya. Hingg akhirnya mereka (Inggris-red) tahu kalau Ia dari Indonesia. Ia dijatuhi pasal 57 section 1, vonis hukum gantung.

Baca Juga :  Soal Laut China Selatan, Indonesia Beri Peringatan Keras kepada China

Tapi ternyata nasib berkata lain. Djoni lolos dari hukuman gantung karena pada 28 Mei 1966 ada konferensi di Bangkok, Thailand, yang mengumumkan perjanjian damai antara Indonesia dan Malaysia. Djoni pun dipulangkan dari Sulawesi ke Surabaya dan kembali berkumpul dengan keluarga.

Baca juga : Kasum TNI : Tugas TNI Selain Perang Adalah Mengatasi Terorisme

Hingga saat ini, meski sudah masuk masa purna tugas tapi kegiatan Djoni tak pernah surut. Djoni masih kerap diundang untuk memotivasi anggota Marinir Angkatan Laut di seluruh Indonesia.

Sosok Pasukan Denjaka Indonesia yang punya semburan jarum berbisa ini, mencintai Indonesia dengan keberanian dan kesetiannya berperang untuk nusa dan bangsa, terinspirasi dari aksi John Wayne di film Back to Bataan pada tahun 1945.

Selain itu, Djoni juga pernah mendapat masukan berharga dari guru yang paling dia hormati. Dulu guru saya pernah bilang begini, kamu harus mengarahkan kenakalanmu jadi hal yang baik. kamu bisa masuk tentara, energi kamu ini bisa buat bela Indonesia. (qa/ummatina)

Bagikan ini :