Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Radikalisme dan Terorisme Merajalela Ketika Kaum Moderat Memilih Diam

Radikalisme dan Terorisme Merajalela Ketika Kaum Moderat Memilih Diam

Page Visited: 1185
Read Time:1 Minute, 46 Second

Radikalisme dan Terorisme Merajalela Ketika Kaum Moderat Memilih Bungkam

Berbicara tentang pencegahan aksi terorisme, kita tidak boleh lagi berkaca kepada Eropa dan Amerika. Dalam film mereka digdaya, tapi secara fakta mereka terbelit dalam benang kusut radikalisme. Dalam satu dekade terakhir, teroris seringkali beraksi di “beranda rumah” dan penghuninya tidak bisa membedakan antara teroris dan petugas pengantar surat.

“Masyarakat Eropa dan Amerika terlalu lama dimanjakan kebebasan individu,” kata Robert Kagan dari Hoover Institution.

Masyarakat Amerika terutama, tetap terperosok dalam sejarah. Menjalankan kehidupan ala Hobbesian yang gigih melawan pengawasan, di mana hukum dan aturan internasional disepelekan, sedang keamanan nasional masih bergantung pada penggunaan militer. Masyarakatnya bahkan lemah dalam menjaga rumahnya sendiri, apalagi ikut serta menjaga kemanan negara.

Baca juga: Dari Intoleransi ke Radikalisme, Akhirnya Menjadi Terorisme

Pada akhirnya aksi terorisme meledak tanpa disangka, masyarakat hanya bisa tersentak di depan televisi. Sejak peristiwa 911, D.C. Killing Spree, hingga Nashville Bombing kemarin, adalah bukti kegagalan rakyat Amerika dalam mendeteksi dini terorisme dan mencegah radikalisme dari hulu.

Baca Juga :  Gus Ishom dan Ucapan Selamat Hari Natal

Liberalisme yang meresap hingga ke tulang sumsum, membuat rakyat Eropa dan Amerika tak saling mengawasi. Mereka lebih percaya kepada CCTV yang hanya mempunyai mata, tapi tak berotak – hanya merekam dan tak meredam. Orang Amerika bahkan cenderung tergesa-gesa untuk mencapai finalitas. Kelemahan dalam struktur kehidupan sosial membuat mereka lebih mengutamakan hasil daripada proses.

Radikalisme dan Terorisme Merajalela Ketika Kaum Moderat Memilih Diam Tak Melawan Politisi Semodel Fadli Zon dan Mardani Ali Sera

Bangsa kita saat ini bisa belajar dari kegagalan mereka. Para politisi di Eropa dan Amerika selalu menyederhanakan persoalan radikalisme, persis seperti yang sering diucapkan Fadli Zon dan Mardani Ali Sera di sini. Menuduh isu radikalisme dan terorisme hanyalah konspirasi lembaga keamanan untuk mendapatkan kucuran anggaran proyek.

Baca juga: Gus Yaqut Jadi Menag, Ferdinand Hutahaean Sebut Jokowi Serius Lawan Radikalisme

Politisi semodel kedua orang tadi sangat banyak di Eropa dan Amerika: bersuara lantang ketika aman, menghilang ketika negara terancam. Radikalisme dan terorisme akan merajalela jika kaum fanatik buta dan politisi culas mendominasi ruang, dan kaum moderat justru lebih memilih diam.

Baca Juga :  Kenapa Presiden Terbitkan Perpres Tentang Ancaman Ekstrimisme?

Hanya ada satu kata: lawan!

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10218027336769773&id=1076831809

Bagikan ini :