Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Segenap Pemuda Indonesia Menolak KAMI

Page Visited: 1173
Read Time:3 Minute, 56 Second

Segenap Pemuda Indonesia Menolak KAMI

Keberadaan KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) sejak dideklarasikan sudah mendapat penolakan dari segenap eleman pemuda Indonesia. Kemunculan KAMI yang sangat provokatif seolah-olah Indonesia harus diselamatkan adalah gerakan memecah belah persatuan bangsa. Dengan demikian, boro-boro mau menyelamatkan Indonesia, justru sebaliknya KAMI dengan segala provokasinya akan bisa menghancurkan Indonesia.

Ada beberapa aksi penolakan terhadap gerakan KAMI. Pada Rabu (30/9/2020), Setelah mendapatkan penolakan, akhirnya deklarasi KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) di Regasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dibubarkan.

Waktu itu, acara KAMI Karawang di Tugu Proklamasi Rengasdengklok itu rencananya bakal dihdiri mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. Namun, acara itu mendapat penolakan dari organisasi masyarakat Gibas.

Mereka membawa spanduk bertuliskan, ‘Aliansi Kerakyatan Anti Makar sebagai respons untuk membela persatuan nasional “akar rumpun” dan segenap masyarakat Karawang menolak deklarasi KAMI dan Gatot Nurmantyo di Karawang’.

Pada tulisan spanduk itu juga tertulis, ‘Jangan kotori Karawang dengan politik kotor. Akar Rumpun Mendukung KITA, menolak KAMI’. Selain itu, Ormas tersebut meminta deklarasi tersebut dibubarkan dengan alasan melanggar protokol kesehatan.

Kemudian pada Senin (9/11/2020) puluhan massa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Cinta NKRI menggelar aksi unjuk rasa menolak Kesatuan Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) di Provinsi Aceh. Mereka menilai, keberadaan KAMI dapat mengancam perdamaian dan persatuan Indonesia. Gerakan Masyarakat Cinta NKRI menggelar unjuk rasa di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh.

Baca Juga :  FPI dan HTI Pemberontak, Habib Hasan: Gerakan Mereka Mirip PKI

Massa mengusung spanduk bertuliskan “Stop pecah belah anak bangsa demi keutuhan negara tercinta. Rakyat tolak deklarasi KAMI di Aceh”.

Heri Safrijal, koordinator unjuk rasa, mengatakan kehadiran KAMi cenderung mendiskreditkan seluruh aspek adalah kegagalan pengelolaan negara oleh pemerintahan Joko Widodo.

“Karena itu, kami menilai ini berpotensi mengancam keberlangsungan perdamaian di Aceh. Apalagi kami menilai kehadiran KAMI sudah memprovokasi pikiran-pikiran elemen sipil di Aceh,” kata Heri Safrijal.

Oleh karena itu, Heri Safrijal mengajak masyarakat Aceh menolak kehadiran KAMI karena dapat mengganggu stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat yang sedang berlangsung sangat baik di Aceh.

Begitulah keberadaan KAMI mendapat reaksi keras dari masyarakat. Dari berbagai daerah muncul aksi demo yang menolak ketika organisasi ini akan mengadakan deklarasi tambahan. Mereka merasa KAMI hanya mengacaukan kedamaian di Indonesia dan tidak benar-benar ingin menyelamatkan Indonesia.

Ketika KAMI ingin mencari mangsa dan mempengaruhi rakyat agar ikut membenci pemerintah, maka ia mengadakan deklarasi, dengan alasan ingin menyelamatkan Indonesia. Karena deklarasi ini bisa menarik banyak orang, maka diuruslah izin kepada pihak berwajib. Sayangnya langsung ditolak karena masih masa pandemi Covid-19, sehingga dikhawatirkan ada klaster pandemi baru.

Baca Juga :  Soal Deklarasi KAMI yang Ditolak di Mana-mana

Selain izinnya ditolak, maka KAMI juga diprotes oleh berbagai kalangan masyarakat di daerah. Di Pemalang, puluhan aktivis berunjuk rasa di Taman Patih Sampun. Mereka bersatu dalam ASLUN (Aliansi Satukan Langkah untuk Negri). Puluhan aktivis menolak KAMI masuk ke Pemalang, karena tokoh-tokoh koalisi itu terindikasi punya muatan politis.

Andi Rustono, koordinator unjuk rasa menyatakan bahwa KAMI seharusnya mendinginkan suasana, karena kita masih dalam masa pandemi covid-19. Namun sayangnya mereka malah membuat masyarakat panas dan mendeklarasikan gerakan yang bisa memecah NKRI. KAMI juga hanya berisi orang-orang yang haus akan kekuasaan dan punya motif politis.

Di Kendal, ada aksi teaterikal yang dilakukan oleh Alansi Pemuda Kendal. Mereka mengadakan acara di halaman hutan klorofil. Menurut ketua pelaksana aksi, Kelana Siwi, acara ini diadakan karena KAMI merongrong persatuan bangsa. Jawa Tengah sudah damai, jangan ada kekisruhan akibat deklarasi oleh koalisi aksi menyelamatkan Indonesia.

Para mahasiswa di Pati juga menolak KAMI. Mereka beranggapan bahwa organsasi itu merusak kedamaian di Indonesia. Mereka yang bergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pati berunjuk rasa di depan gedung DPRD Pati. KAMI dilarang masuk ke bumi mina tani dan jangan sampai mengadakan deklarasi tambahan di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Segenap Pemuda Indonesia Menolak KAMI

Banyaknya penolakan terhadap KAMI mulai dari pejabat, mahasiswa, hingga rakyat biasa, menunjukkan bahwa organisasi ini gagal mendapat simpati masyarakat. Penyebabnya adalah KAMI hanya mengekspose banyak kegagalan pemerintah (menurut tuduhan mereka) namun KAMI tidak memberi tahu bagaimana cara mengatasi efek pandemi covid-19 di Indonesia.

Baca Juga :  Kodam Jaya Panen Karangan Bunga, Dukung Jenderal Dudung Bubarkan FPI

KAMI juga dianggap ndableg (dungu), karena sudah tahu saat deklarasi 18 agustus lalu diprotes banyak orang, malah mengadakan acara serupa di banyak kota. Selain dikhawatirkan akan membuat klaster corona baru (saat tak ada physical distancing), deklarasi tambahan dinilai tak ada manfaatnya. Karena mereka hanya bisa pidato dan memberi janji dan harapan palsu kepada masyarakat.

Cara menyelamatkan Indonesia bukan dengan deklarasi dan caci-maki, melainkan dengan bukti nyata. Jika para tokoh ingin negara ini tidak dalam kondisi krisis ekonomi, maka bantulah rakyat kecil. Bisa dengan cara pemberian sembako atau memberi mereka pekerjaan, agar memperoleh pendapatan tetap.

Aksi nyata lebih berarti daripada pidato penuh hasutan. KAMI seharusnya sadar diri, jangan hanya pandai memaki. Jika ketika diwawancarai, anggotanya cuma bisa jual omongan dan memprovokasi, maka tidak akan mendapat simpati masyarakat. Penolakan terhadap KAMI akan terus ada. Dan segenap pemuda Indonesia Menolak KAMI di manapun berada, karena KAMI samasekali tidak ada manfaatnya bagi negara dan bangsa Indonesia. (*)

Bagikan ini :