Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Sejak Para Pentolan KAMI Ditangkap, KAMI Seakan Menghilang dari Publik

Page Visited: 868
Read Time:1 Minute, 58 Second

KAMI Terkesan Menghilang dari Publik sejak Aktivisnya Ditangkap, Pengamat Politik Sebut Sedang Atur Napas!

JAKARTA – Pangi Syarwi Chaniago, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, menilai ada beberapa kemungkinan kenapa gerakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) terkesan menghilang dari publik atau tak ‘bersuara’ lagi setelah beberapa pentolan KAMI seperti M Jumhur Hidayat dan Syahganda Nainggolan ditangkap dan dijadikan tersangka.

Bahkan, yang terakhir ada pentolan KAMI, yait Ahmad Yani dipanggil Bareskrim Polri juga belum menanpakkan kehadirannya dengan alasan tidak menerima surat panggilan tersebut.

Terlepas dari soal panggilan polisi terdap Ahmad Yani, Pangi Chaniago menilai hilangnya KAMI dari Publik, bisa saja KAMI sedang mengatur napas atau tengah mengatur posisi pergerakan mereka.

“Kita lihat saja nanti apakah mereka pendiri KAMI tetap lantang dan tetap kritis mengingatkan, mengoreksi serta tetap mengawal dan meluruskan arah kiblat bangsa yang menurut mereka melenceng dari amanat konstitusi,” ujar Pangi saat dihubungi SINDOnews, Senin (26/10/2020).

Baca Juga :  Sidang Perdana Sugi Nur Digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

Pentolan KAMI Ditangkap Polisi karena Ada Bukti Kuat Pelanggaran Hukum

Pangi Chaniago menilai, KAMI saat ini sebenarnya sadar dengan konsekuensi perjuangan. Soal konsekuensi ini pernah diutarakan oleh Presidium KAMI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo. Ia melihat, bentangan empiris selama ini hanya tokoh-aktivis yang berseberangan dengan pemerintah saja yang cepat ditangkap. Setidaknya ini menurut mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Perlu diketahui sebelumnya, sebenarnya mereka cepat ditangkap polisi karena ada bukti kuat yang dimilki Polisi untuk menagkapnya, khususnya terkait pelanggaran hukum dalam aksi kerusuhan demo menolak UU Cipta Kerja.

Sayangnya, pengamat politik tersebut menilai, menurutnya aparat kita terang sangat diskriminatif dan politik posisinya di atas hukum atau dengan kata lain, hukum harus tunduk pada kehendak dan selera politik. Harusnya realitas politik harus tunduk pada kehendak hukum. Lagi-lagi ini adalah penilaian sunyektif dari Pangi Chaniago sebagai pengamat.

“Ini yang saya sebut kriminal dan kacau penegakan hukum kita di era sekarang,” tutur dia.

Maka itulah, menurut Pangi Chaniago, KAMI memang terkesan agak diam sejenak setelah beberapa tokoh petinggi dan pentolan KAMIdipenjara oleh aparat pemerintah, karena dianggap getol mengkritik dan berseberangan pemikiran dan narasinya terkait persoalan bangsa.

Baca Juga :  Tak Punya Partai Ngebet Nyapres, Gatot Nurmantyo Paling Mentok Jadi Menteri

“Tapi kalau kita cermati dan perhatikan statement dan komentar Gatot dan Din Syamsuddin sebagai tulang punggung kekuatan KAMI, mereka katanya nggak bakal ciut, nggak bakal mundur, atau menurun tensi kritiknya setelah tokoh-tokoh petinggi aktivis KAMI ditangkapi, katanya tak akan membuat mereka bungkam, apalagi jera, tetap akan kritis dan bersuara. Kita lihat saja nanti bagaimana ujung dari cerita ini,” pungkas Pangi Chaniago. (*)

Bagikan ini :