Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Kasus Perceraian di Arab Saudi Capai 7000 Lebih

Selama Lockdown, Kasus Perceraian di Arab Saudi Capai 7000 Lebih

Page Visited: 7751
Read Time:2 Minute, 29 Second

Kasus perceraian di Arab Saudi selama penerapan Lockdown mencapai lebih dari 7000 kasus, istri berhasil bongkar rahasia suami sehingga isteri menuntut perceraian.

Lockdown atau Karantina wilayah menjadi salah satu cara dalam pencegahan penyebaran virus corona yang dilakukan berbagai negara di dunia. Demikian juga halnya negara Arab Saudi. Langkah yang dilakukan oleh Arab Saudi tentunya dalam upaya memutus rantai penularan virus corona.

Akan tetapi, di tengah penerapan tindakan lockdown yang diterapkan pemerintah Arab Saudi, terungkap kasus yang fenomenal ditemukan di negara tersebut. Dikabarkan bahwa kasus perceraian meningkat sampai dengan 30 persen pada Bulan Februari 2020.

Baca juga : Dubes Agus Maftuh: Istilah dan Tradisi NU Sangat Populer di Arab Saudi

Pada saat kebijakan karantina belum dicabut atau masih dalam keadaan lockdown para istri di negara kerajaan Saudi yang seharusnya melayani suaminya justru pergi ke pengadilan untuk mengajukan perceraian.

Hal tersebut dilakukan para istri setelah mengetahui kedok suaminya yang melakukan poligami, yaitu memiliki istri dan keluarga lain di luar rumah tangga mereka.

Baca Juga :  Kisah Mike Tyson, Petinju Paling Berkelas yang Tak Sempat Dibanggakan Ibunya

Perceraian di Arab Saudi 7.482 Kasus

Di Bulan Februari di Arab Saudi telah terjadi pernikahan dan telah meningkat lima persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2019.

Sebanyak 13.000 pernikahan yang telah dilakukan di Arab Saudi, sekira 0,04 persennya atau setara 542 terdaftar online.

Namun, jumlah perceraian pada bulan itu mencapai rekor 7.482, menghasilkan peningkatan 30 persen dalam permintaan perceraian dan ‘khula’, proses Islam di mana seorang wanita dapat menceraikan suaminya.

Peceraian juga merupakan pilihan bagi para wanita, terutama dalam kasus di mana mereka membuktikan bahwa mereka dirugikan sang suami.

Baca juga : PBB Selamatkan Arab Saudi dari Daftar Hitam Pembunuh Anak-anak Yaman

Dikutip dari Middle East Monitor, sabtu 6 Juni 2020, berdasarkan statistik dari Kementerian Kehakiman Arab Saudi, tercatat 52 persen permintaan perceraian dan kasus-kasus pada bulan itu berasal dari kota-kota Mekah dan ibu kota Riyadh.

Tercatat juga, mayoritas wanita yang meminta cerai dari suami mereka yang poligami adalah karyawan, pengusaha wanita, tokoh wanita, dan dokter wanita.

Baca Juga :  PBB Selamatkan Arab Saudi dari Daftar Hitam Pembunuh Anak-anak Yaman

Dalam jangka waktu dua minggu selama bulan itu Pengacara Arab Saudi, Saleh Musfer Al-Ghamdi menerima lima permintaan perceraian dari para istri.

“Di antara mereka adalah seorang dokter yang menemukan bahwa suaminya menikah diam-diam dengan seorang warga Arab,” kata Al-Ghamdi.

Poligami Tidak Haram dalam Agama Islam

Poligami yang merupakan praktik memiliki lebih dari satu istri ini, disahkan dalam agama Islam. Walaupn demikian status hukumnya berbeda antara negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Meskipun legal di negara-negara Teluk Arab, poligami merupakan tindakan ilegal di negara-negara lain seperti Turki dan Tunisia.

Baca juga : Fakta Sebenarnya Konflik Suriah yang Disembunyikan Media Radikal

Ilegalnya poligami di sejumlah negara di luar Arab Saudi telah lama menjadi bahan perdebatan dan dikaitkan dengan masalah hak-hak perempuan.

Di negara Israel, poligami juga dipolitisasi sehingga praktik poligami dilarang. Bahkan Israel tak segan menindak komunitas Arab dan Muslim di negara itu yang melakukan poligami.

Langkah ini sebagai metode mengurangi demografi Arab yang meningkat sembari mengizinkan praktik poligami bagi orang Yahudi Israel untuk meningkatkan demografi Yahudi. (Diolah dari berbagai sumber)

Bagikan ini :