Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Sembuhkan Radikalisme Kaum Tradisionalis

Sembuhkan Radikalisme Kaum Tradisionalis

Page Visited: 1111
Read Time:4 Minute, 6 Second

Menurut pandangan Ayik Heriansyah bahwa kaum tradisionalis telah mengalami radikalisasi. Memang benar, hal ini bisa kita lihat dan rasakan gerak-gerik kaum tradisional yang mulai banyak berperilaku radikal dalam sikap politiknya. Mereka berbasis tradisonalis tetapi dalam sikap politiknya seiring sejalan dan mendukung kaum radikal. Hal ini cukup mengherankan dan sdekaligus memprihatinkan, bagaimana ini bisa terjadi?

Dikatakan Ayik Heriansyah bahwa salah satu metode kaum radikal untuk merusak kaum tradisionalis adalah dengan memutus hubungan jama’ah dengan jam’iyah (dharbu ‘alaqah baina jama’ah wa jam’iyah) dan memutus hubungan ulama dengan umat (dharbu ‘alaqah baina ulama wa ummat) berupa memutuskan kepercayaan jama’ah kepada jam’iyah dan kepercayaan umat kepada ulama kemudian mengalihkan kepercayaan jama’ah dan umat kepada kaum radikal.

Kaum radikal getol menyerang jam’iyah dan ulama, membuka aib-aib mereka, mencitrakan mereka sebagai ulama oportunis, licik, gila jabatan dan cinta dunia sebenarnya dalam rangka merusak pemikiran kaum tradisionalis tersebut.

Harus diakui kaum radikal sangat aktif memproduksi wacana terlepas benar atau salah wacana yang mereka lemparkan ke publik. Kaum radikal yang tidak ikut menulis sangat bersemangat membagi (share) tulisan dari sesama kaum radikal. Bagi mereka yang penting umat mempunyai frame berpikir seperti mereka ketika merespon isu-isu terkini. Adapun kaum tradisionalis agak sungkan membagi tulisan kaum tradisionalis lainnya.

Baca Juga :  Dari Intoleransi ke Radikalisme, Akhirnya Menjadi Terorisme

Di sisi lain kaum tradisionalis agak lamban dan sering telat merespon dinamika politik terkini dengan membuat wacana, opini dan analisa yang berdasarkan frame work politik tradisionalis sehingga wacana dari kaum radikal dominan dan dikonsumsi kaum tradisionalis.

Apakah radikalisme yang sudah bercokol di kepala kaum tradisionalis bisa disembuhkan? Menurut Ayik Hariansyah, Radikalisasi kaum tradisionalis bisa dihambat dan dihentikan jika jam’iyah dan ulama aktif mendekati jama’ah dan umat, memberi pengarahan dan bimbingan, menyampaikan wacana tradisionalis atas isu-isu yang terjadi serta turut menyelesaikan masalah praktis mereka.

Yuk, kita simak penjelasan oleh Ayik Heriansyah berikut ini…..

Radikalisasi Kaum Tradisionalis

Persinggungan kaum tradisionalis dengan politik pemerintahan dan kenegaraan di Indonesia sangat dinamis. Keterlibatan kaum tradisionalis lahir dari rasa tanggung jawab keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan. Sebagai soko guru bangsa dan negara, tradisionalisme memiliki motivasi dan pondasi yang kuat untuk berperan serta dalam mewujudkan kemashlahatan umat demi terciptanya negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur.

Bagi kaum tradisionalis spiritualitas merupakan titik pijak ontologi yang pertama dan utama. Ruh lebih dulu diciptakan daripada jasad. Karena itu aspek pembinaan spiritualitas sangat penting. Ini ciri khas yang tidak dimiliki oleh kaum modernis dan radikal yakni spiritualitas yang bersih dalam pengabdian, lembut dalam rasa, jernih dalam pemikiran, mendalam dalam pemahaman dan meluas dalam mengayomi.

Baca Juga :  Terorisme Berawal dari Intoleransi dan Radikal Kemudian Aksi Teror

Ekspresi politik kaum tradisionalis sejatinya sangat praktis yaitu bagaimana memberi manfaat kepada orang lain dengan apa yang dipunyai seperti mengajar ngaji, membina majlis ta’lim, membangun masjid, pesantren, madrasah dan perguruan tinggi. Ada juga yang giat mengurus anak yatim, mengelola lembaga filantropi, biro umrah dan haji. Sebagian mengabdikan diri melalui lembaga-lembaga negara. Sangat sedikit kaum tradisionalis yang menjadi pejabat pemimpin pemerintahan. Kehadiran tradisionalisme membuat kehidupan umat terasa lezat meski wujudnya tak terlihat bak garam dalam masakan.

Oleh karena itu jika ada ekspresi politik radikal dari sebagian kaum tradisionalis tampaknya janggal (syadz). Menghujat penguasa, melecehkan ulama, memprovokasi masyarakat untuk melakukan bughat dan terlibat ke dalam gerakan revolusioner di antara perilaku radikal yang ingin dimasukkan ke dalam kaum tradisionalis akhir-akhir ini. Ekspresi dan perilaku politik begini merupakan menyimpangan dari tradisi politik kaum tradisionalis. Karena basis kaum tradisionalis adalah spiritualitas maka ekspresi dan perilaku politik radikal diduga kuat muncul sebagai ledakan emosi sesaat akibat himpitan kekecewaan terhadap perilaku politik elit, provokasi dari kaum radikal, kekosongan wacana politik tradisionalis dan kerenggangan hubungan ulama tradisionalis dengan umatnya.

Salah satu metode kaum radikal untuk merusak kaum tradisionalis adalah dengan memutus hubungan jama’ah dengan jam’iyah (dharbu ‘alaqah baina jama’ah wa jam’iyah) dan memutus hubungan ulama dengan umat (dharbu ‘alaqah baina ulama wa ummat) berupa memutuskan kepercayaan jama’ah kepada jam’iyah dan kepercayaan umat kepada ulama kemudian mengalihkan kepercayaan jama’ah dan umat kepada kaum radikal. Kaum radikal getol menyerang jam’iyah dan ulama, membuka aib-aib mereka, mencitrakan mereka sebagai ulama oportunis, licik, gila jabatan dan cinta dunia sebenarnya dalam rangka itu.

Baca Juga :  Gus Ishom dan Ucapan Selamat Hari Natal

Di sisi lain kaum tradisionalis agak lamban dan sering telat merespon dinamika politik terkini dengan membuat wacana, opini dan analisa yang berdasarkan frame work politik tradisionalis sehingga wacana dari kaum radikal dominan dan dikonsumsi kaum tradisionalis. Harus diakui kaum radikal sangat aktif memproduksi wacana terlepas benar atau salah wacana yang mereka lemparkan ke publik. Kaum radikal yang tidak ikut menulis sangat bersemangat membagi (share) tulisan dari sesama kaum radikal. Bagi mereka yang penting umat mempunyai frame berpikir seperti mereka ketika merespon isu-isu terkini. Adapun kaum tradisionalis agak sungkan membagi tulisan kaum tradisionalis lainnya.

Radikalisasi kaum tradisionalis bisa dihambat dan dihentikan jika jam’iyah dan ulama aktif menyambangi jama’ah dan umat, memberi pengarahan dan bimbingan, menyampaikan wacana tradisionalis atas isu-isu yang terjadi serta turut menyelesaikan masalah praktis mereka. Semoga.

Ayik Heriansyah

Sumber: https://www.facebook.com/100047208737142/posts/223320899251533/

Bagikan ini :