Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Seruan Khilafah Hanyalah Slogan Politik

Page Visited: 1351
Read Time:3 Minute, 45 Second

Seruan Khilafah Hanyalah Slogan Politik

Masih terkait seruan khilafah yang terus didengungkan, sadarlah sebelum terlambat… Slogan dan Seruan KHILAFAH, khususnya khilafah ala Hizbut Tahrir di Indonesia itu hanyalah alat Propaganda untuk memecah belah Indonesia demi tujuan politik merebut kekuasaan. Semoga tulisan ini bisa membuka mata hati yang sudah tertutup oleh kepentingan Politik, kebencian dan kedengkian, hingga mengabaikan keutuhan dan persatuan bangsa.

Menurut Dr. Nadirsyah Hosen, memaksakan sebuah sistem yang dinamai “khilafah” sebagai bagian ajaran Islam yang mutlak merupakan “sebuah kekhilafan”. Ini adalah khilaf pertama dalam memahami khilafah.

Pemutlakan satu konsep khilafah, adalah satu bentuk kekhilafan juga—ini khilaf kedua dalam memahami khilafah.

Dr. Nadirsyah Hosen juga menunjukkan satu kekhilafan lainnya—ini khilaf ketiga—yaitu ketika khilafah dipahami sebagai satu-satunya solusi bagi seluruh persoalan umat.

Khilafah dengan segala macam bentuk dan sistemnya tidak lepas dari beragam persoalan dan kekurangan. Tiga orang khalifah yang merupakan Sahabat Nabi yang utama—Umar, Utsman, dan Ali—meninggal dibunuh. Dua di antaranya bahkan dibunuh oleh sesama umat Islam sendiri.

Dalam periode Dinasti Bani Umayyah, Abbasiyyah, hingga Turki Utsmani, sejarah mencatat tak sedikit kasus kekerasan yang terjadi terhadap umat, berlakunya ketidakadilan, atau penyimpangan atas penegakkan hukum syariat hingga politisasi ayat-ayat suci demi memuluskan tujuan politis para penguasa saat itu.

Baca Juga :  Tak Ada Kriminalisasi Ulama, Mereka Dihukum karena Tindak Pidana

Sejarah mencatat bagaimana cucu Rasulullah, Hasan bin Ali bin Abi Thalib, dibunuh dengan cara diracun; adiknya, Husein bin Ali bin Abi Thalib dan keluarganya dibantai di Karbala. Sejarah juga mengisahkan bagaimana Hajjaj bin Yusuf, salah seorang gubernur Bani Umayyah, memblokade Mekkah selama enam bulan dan menghujani penduduknya dengan panah api hingga Ka’bah mengalami kebakaran. Belum lagi soal banyaknya harem para penguasa yang didapatkan dari kalangan budak dan rampasan perang.

Dengan menyimak sejarah, Dr. Hosen menyatakan bahwa khilafah laiknya sistem pemerintahan lainnya. Ia memiliki sisi baik dan buruk. Menawarkan khilafah sebagai sistem sempurnah tanpa cacat dan memaksakannya sebagai satu-satunya solusi atas segala masalah bukanlah sikap yang tepat.

Seruan Khilafah Hanyalah Slogan Politik.

Lalu bagaimana caranya pendukung khilafah mau mewujudkan cita-cita politik menegakkan khilafah di Indonesia?

Mereka jelas tidak mau ikut pemilu. Bagi mereka, pemilu dan demokrasi adalah sistem yang haram, karena mendasarkan diri pada kedaulatan rakyat, padahal kedaulatan itu mutlak milik Allah. Cara melalui parlemen juga ditolak oleh mereka, karena parlemen melahirkan hukum buatan manusia, bukan hukum Allah.

Kalau cara-cara demokratis dan konstitusional diharamkan, lalu cara apa yang mereka gunakan? Revolusi melalui people power? Tidak juga. Karena dalam sejarah khilafah, tidak pernah ada yang namanya people power. Jangankan people power, people saja tidak pernah punya power dalam sistem khilafah!

Baca Juga :  Negara dan Pemerintahan Indonesia Sudah Berjiwa Islami

Ada satu doktrin inti Hizbut Tahrir di seluruh dunia yang jarang diangkat dalam perbincangan publik, padahal itu doktrin sentral meraka. Yakni doktrin thalabun nushrah. Arti harfiahnya, upaya mencari pertolongan. Itulah doktrin tentang cara merebut kekuasan yang ada dengan menggantinya menjadi sistem khilafah. Dengan berbagai cara, termasuk melalui kudeta militer.

Menurut Ayik Heriansyah, mantan ketua DPD HTI Bangka Belitung yang sekarang menjadi pengurus Lembaga Dakwah PWNU Jawa Barat, doktrin thalabun nushrah masih kuat dipegang oleh eks aktivis HTI sampai saat ini.

Orang-orang Hizbut Tahrir bisa saja ngeles dengan bilang bahwa thalabun nushrah itu sekedar aktivitas politik, bukan kudeta militer (al-inqilab al-‘askari).

Ngeles semacam ini gampang dibantah. Thalabun nusrah sejatinya merupakan gabungan antara aktivitas politik dan militer sekaligus, dengan tujuan merebut kekuasan.

Aktivitas politik dilakukan oleh pengurus dan anggota partai, para tutor politik, serta para juru propagandanya. Tugasnya menkondisikan agar masyarakat bersikap antipati terhadap negara Pancasila, menyerap ide-ide khilafah, dan akhirnya mendukung gerakan khilafah. Inilah aktivitas yang kelihatan di permukaan.

Baca Juga :  KH Said Aqil Siroj Soal Kaum Radikal yang Gemar Teriak Khilafah!

Namun berbarengan dengan itu, ada aktivitas Hizbut Tahrir yang dilakukan dalam senyap. Dirancang dilakukan oleh semacam satuan khusus atau kelompok inti mereka yang bertujuan merekrut dan menjalin aliansi dengan pemegang kekuasaan dan kekuatan, yang mereka istilahkan sebagai ahlul quwwah, seperti militer, polisi, pemilik modal dan lain-lain.

Bohong kalau gerakan khilafah adalah semata-mata gerakan dakwah, karena yang mereka lakukan adalah upaya sistematis, masif, dan terstruktur untuk merebut kekuasaan demi menegakkan negara khilafah di negeri ini.

Bohong juga kalau gerakan khilafah adalah gerakan damai. Karena dalam doktrin mereka, pengambilan kekuasaan tersebut justru bukan dengan cara demokrasi yang damai, misal melalui pemilu. Tapi melalui penerapan dokrtin thalabun nushrah untuk merebut kekuasaan, salah satu caranya adalah yaitu, kudeta.

Kalau sekarang, upaya merebut kekuasaan itu tidak terjadi, karena pendukung khilafah tidak punya kekuatan yang cukup untuk melakukannya. Akan beda ceritanya jika mereka punya kekuatan yang cukup, kudeta adalah keniscayaan.

Jadi initinya adalah bahwa seruan hhilafah hanyalah slogan politik untuk merebut kekuasaan demi berdirinya negara khilafah. Umat Islam jangan mau dibohongi agar tidak menyesal seperti rakyat Suriah, Irak, Libya, Tunisia, dll. (*)

Bagikan ini :