Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Syekh Ali Jum’ah, Kini Banyak Penceramah Tak Kompeten Tapi Pengikutnya di Mana - Mana

Syekh Ali Jum’ah: Kini Banyak Penceramah Tak Kompeten Tapi Pengikutnya di Mana – Mana

Page Visited: 769
Read Time:1 Minute, 39 Second

Syekh Ali Jum’ah: Kini Banyak Penceramah Tak Kompeten (Ulama Jadi-jadian), Tapi Pengikutnya di Mana – Mana

Mufti Agung Mesir, Syekh Ali Jum’ah merasa heran dengan fenomena keagamaan yang terjadi akhir-akhir ini. Menurutnya, kini banyak penceramah bodoh atau miskin ilmu yang pengikutnya justru banyak dan tersebar di mana-mana.

Kenyataan itu, kata Syekh Ali, sebenarnya sempat disampaikan para ulama di masa lalu. Misalnya Ibnu Mas’ud yang mengatakan, suatu hari nanti bakal ada masa di mana populasi orang alim (berilmu) semakin sedikit, namun penceramah atau orang yang gemar berkata-kata justru semakin bertambah.

“Orang-orang mengira, kemampuan itu (kemampuan berkata-kata) merupakan bukti keilmuan tokoh (ulama) tersebut,” ujar Syekh Ali, Kamis 27 Agustus 2020.

Dia menduga, tipikal penceramah seperti itu hanya memiliki bekal secuil ilmu untuk berdakwah. Namun, yang menjadi masalah, mereka mengaku-ngaku memiliki ilmu pengetahuan agama—khususnya hadits, kemudian mulai berani mengeluarkan fatwa dan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang banyak.

“Akibatnya, tersebarlah fitnah di tengah masyarakat sehingga menjauhkan mereka dari kebenaran dan Manhaj yang lurus,” terangnya.

Baca Juga :  Kisah Khilafah Diperangi Nabi Muhammad saw

Lebih jauh, Syekh Ali mengatakan, saat ini banyak pendakwah yang pintar menurut versinya sendiri, bukan menurut pengakuan orang lain ataupun jamaahnya. Bahkan, dengan kemampuan mereka yang ‘seadanya’, mereka telah bersikap sombong dan ujub merasa dirinya paling berilmu.

“Mereka berani berdusta mengenai rawi-rawi hadits dan bertindak keras kepada murid-murid mereka. Akibatnya mereka bertentangan dengan ajaran ilmu yang mereka dengarkan, dan berlawanan dengan kewajiban yang seharusnya mereka lakukan,” imbuhnya.

Syekh Ali menilai, saat ini sulit membedakan antara ulama sungguhan dan ulama ‘jadi-jadian’. Sebab, secara tampilan dan pembawaan keduanya bisa terlihat begitu serupa atau mirip. Hal tersebut tentu berbahaya lantaran bisa menimbulkan kebingungan bagi ummat.

Lebih gawat lagi, mulai banyak ulama ‘jadi-jadian’ yang berani masuk ke ranah fatwa, dan berusaha memberikan pendapat mereka mengenai permasalahan yang berkaitan dengan fiqih.

“Akibatnya terjadilah praktek mendahulukan usaha sebelum sadar, mendahulukan pekerjaan sebelum pengetahuan. Dan memindahkan (menyampaikan) ilmu agama tidak melalui jalur yang benar,” kata Syekh Ali Jum’ah. (qa/ummatina/dakwahnu)

Bagikan ini :