Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Memberantas Paham radikal Sampai ke Akar-akarnya

Tangkal Radikalisme, Berantas Paham Radikal Sampai ke Akar-akarnya

Page Visited: 1204
Read Time:2 Minute, 59 Second

Tangkal Radikalisme, Berantas Paham Radikal Sampai ke Akar-akarnya

Untuk menangkal berkembangnya radikalisme dan terorisme di tengah masyarakat, di kalangan generasi muda khususnya, kita harus mampu menanamkan nilai-nilai Pancasila, bukan dengan cara memaksakannya. Selain itu, menanamkan Pancasila di kalangan para siswa di sekolah tidak sebatas hanya berupa hafalan. Tetapi harus tahu mempraktekkan bagagaimana menjadi manusia Pancasila yang baik dan benar.

Selanjutnya, untuk memberantas paham radikal (radikalisme) harus bisa menghadirkan Pancasila di setiap hati masyarakat, sejak dari masih anak-anak sampai dewasa, melalui praktek nyata dan di seluruh waktu yang ada dalam keseharian kita.

Saat sekarang ini Indonesia berada di tiga persimpangan terorisme. Yaitu, domestik, Regional, dan global. Secara domestic, terorisme banyak ditujukan untuk mengancam symbol-simbol negara.

Seperti penyerangan terhadap markas aparat dan pejabat negara. Sementara secara regional, terorisme di Indonesia terkoneksi dengan radikalisme yang tumbuh di negara lain.

Sedangkan secara global, Indonesia menjadi salah satu target rekruitmen seperti halnya negara-negara lain. Tetapi, setelah terpojok mereka kembali ke negara asalnya dan menjadi sel-sel terorisme yang hidup terpisah.

Baca Juga :  Prajurit TNI Cegat Tank Israel Jadi Perbincangan Dunia

Oleh karena itu kita berharap pemerintah serius menangani persoalan radikalisme dan terorisme. Karena terorisme bisa muncul di banyak tempat, dengan bentuk yang berubah-ubah. Untuk itu seluruh kelompok masyarakat juga harus berpartisipasi ikut menghadapi bahaya radikalisme. Dengan partisipasi seluruh elemen masyarakat akan lebih memudahkan usaha pemerintah dalam memberantas radikalisme.

Dalam tataran global, baru-baru ini Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Robikin Emhas bersama Menko Polhukam Moh Mahfud MD berdiskusi tentang moderasi Islam dengan Sekjen Liga Muslim Dunia (World Moslem League) atau Rabithah Alam Islami, Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al Issa di kantornya, Riyadh, Arab Saudi, Selasa (8/12/2020).

Dalam pertemuan dengan Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al Issa yang berlangsung selama satu setengah jam, keduanya menegaskan perlunya penerapan wawasan moderasi Islam atau wasathiyyah Islam di kalangan kaum muslimin di seluruh dunia. “Islam adalah agama kemanusiaan,” ungkap Syekh Muhammad.

Memberantas Paham radikal Sampai ke Akar-akarnya

Sementara itu, Mahfud MD mengungkapkan bahwa umat manusia di dunia mempunyai agama dan keyakinan yang berbeda-beda. Karenanya, kata Mahfud, inklusivisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara amat diperlukan. Mahfud pun meminta kaum muslimin tidak terjebak dalam sikap ekstrimisme radikal atau liberalisme. Umat Islam harus menjadi umat jalan tengah dan agen perdamaian.

Baca Juga :  Moderat Itu Susah, Ekstrem Itu Mudah

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menambahkan, konsep wasathiyyah Islam sangat cocok bagi umat Islam di Indonesia. Sebab di Indonesia banyak agama dan keyakinan yang dianut.

“Indonesia adalah laboratorium pluralisme dan toleransi yang paling efektif di dunia karena merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan dengan berbagai agama dan madzhab keagamaan yang sangat lengkap. Semua bisa hidup berdampingan,” kata Mahfud MD dalam keterangannya dikutip dari rmco.id, Selasa (8/12/2020).

Selanjutnya kedua pihak sepakat menjalin kerjasama dalam mendakwahkan Islam yang berwawasan wasathiyyah Islam (Islam Moderat) melalui jaringan yang dimiliki Kemenko Polhukam maupun Liga Muslim Dunia.

Sehari sebelumnya, Mahfud MD menemui Sekretaris Jenderal Global Center for Combating Extremist Ideology (Etidal) Mansour Alshammari di Riyadh, Senin (7/12/2020). Lembaga Anti Radikalisme dan Terorisme Arab Saudi besutan Raja Salman.

Selain dari NU ( Kiai Robikin Emhas), Menko Polhukam yang didampingi Dubes RI untuk Saudi Arabia Maftuh Abegebreil juga bersama Syarikat Islam (Hamdan Zoelva) dan ICMI (Yasril A Baharuddin). Dari penjelasan Pimpinan Etidal Mansour Alshammari, rasanya tak ada tempat bagi radikalisme dan terorisme.

Baca Juga :  Dari Intoleransi ke Radikalisme, Akhirnya Menjadi Terorisme

Khususnya di Indonesia, dalam menangkal sekaligus memberantas radikalisme, kita punya Pancasila. Diketahui bersama, Pancasila adalah ideologi negara hasil kesepakatan bersama para pendiri bangsa. Dibentuk guna mewadahi segenap elemen bangsa yang sangat majemuk. Kewajiban kita sebagai rakyat Indonesia adalah mempertehankannya. Setiap upaya dan gerakan yang mengancam keutuhan NKRI wajib ditangkal. Contohnya, gerakan dan penyebaran radikalisme harus ditangkal dan diberantas sampai ke akar-akarnya. (*)

Bagikan ini :