Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Kasus Terorisme Berawal dari Intoleransei, kemudian Radikan dan Aksi Teror

Terorisme Berawal dari Intoleransi dan Radikal Kemudian Aksi Teror

Page Visited: 11621
Read Time:1 Minute, 52 Second

Kasus Terorisme Berawal dari Intoleransi dan Radikal Kemudian Aksi Teror

Aksi terorisme sepertinya tidak akan pernah berakhir, oleh karena itu masyarakat sebaiknya tidak mudah tertipu dengan gerakan propaganda kelompok-kelompok jaringan teroris yang digunakan mereka untuk merekrut anggota-anggotanya.

Dan menurut penelitian yang dilakukan pakar intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta, anak-anak muda lebih mudah untuk terpapar paham radikal dan terorisme.

Selama periode Januari hingga Juni 2020, ada 84 tersangka terkait dengan jaringan terror yang aksinya berhasil digagalkan aparat penegak hukum. Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) melaporkan data ini dalam rapat dengan Komisi III DPR Selasa (23/06). Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar tegaskan pihaknya terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum yang ada untuk menanggulangi isu-isu terorisme di Indonesia.

Stanislaus Riyanta menilai pengawasan dan penyelidikan 84 tersangka tersebut tak lepas dari kebijkaan yang telah dikeluarkan pemerintah melalui UU Nomor 5 Tahun 2018 tentang Terorisme, yang memberikan kewenangan aparat penegak hukum untuk melakukan pencegahan.

Baca Juga :  Jika Wawasan Kebangsaan Masyarakat Meningkat, Benih Radikalisme Akan Mati

Persoalan radikalisme dan terorisme terus menjadi momok menakutkan bagi masyarakat, setelah terbukti kerap terjadi aksi teror di berbagai negara, termasuk di daerah-daerah strategis di Indonesia.

Pembahasan terorisme sebagai gerakan ideologis yang menganut paham dan keyakinan tertentu memang bertolak belakang dengan kemajemukan masyarakat Indonesia. Apalagi di negara ini ada bermacam agama, ras dan suku yang tumbuh subur menjadi kekayaan bangsa Indonesia.

Ideologi dan politik mereka paksakan dengan kekerasan. Hal ini benar-benar menjadi ancaman serius bagi stabilitas keamanan nasional. Oleh kelompok radikal tersebut, masyarakat dipaksa mengikuti satu paham dan satu frekuensi dan menyakini sesuatu yang mereka anggap paling benar.

Teror sudah terjadi di mana-mana. Jika terorisme tidak bisa dicegah, lambat laun Indonesia sebagai negara yang majemuk dengan beragam suku, ras dan agama terganggu identitasnya. Jaminan masyarakat hidup aman dengan beragam keyakinan itu bisa terampas dengan adanya gerakan radikalisme dan terorisme.

Untuk mencegah dan mengatasi perkembangan radikalisme dan terorisme, Pengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Riyanta mengatakan bahwa perlu adanya upaya deradikalisasi yang serius dari pemerintah pusat.

Baca Juga :  Pancasila Sebagai Energi Kehidupan Harmonis Umat Beragama

Menurut Stanislaus, kasus terorisme dimulai dari perilaku intoleran, radikal kemudian aksi teror. Lebih-lebih di era tren Industri 4.0 ini kecenderungan radikalisasi lebih cepat dan lebih mudah karena adanya teknologi internet.

Lebih mengkhawatirkan lagi karena kelompok yang disasar adalah generasi muda yang sedang masa mencari jati diri. (ummatina/dari berbagai sumber)

Kasus Terorisme Berawal dari Intoleransei, kemudian Radikan dan Aksi Teror
Bagikan ini :

Mungkin Luput dari Anda