Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Tetap Waspada Terhadap Perekrutan Teroris Melalui Jejaring Offline

Tetap Waspada Terhadap Perekrutan Teroris Melalui Jejaring Offline

Page Visited: 1593
Read Time:1 Minute, 50 Second

Selamatkan Orang-orang yang Anda Cintai dari Terorisme dengan Tetap Waspada Terhadap Perekrutan Teroris Melalui Jejaring Offline

Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) merekrut anggotanya dari seluruh belahan bumi, salah satunya Indonesia. Banyak yang tergiur dengan ajakan ISIS, khususnya pemuda. ISIS merekrut member dengan bermacam cara. Tawaran mereka menggiurkan, padahal sejatinya menjerumuskan.

Sebagaimana diungkap Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Solahudin menjelaskan, media sosial mempunyai peran penting dalam penyebaran paham radikalisme dan terorisme. Mereka melakukan propaganda yang menggiurkan sehingga banyak memperoleh siompatisan.

Kecuali itu, media sosial pun ternyata bisa dijadikan fasilitas rekrutmen kubu teroris. Tetapi, proses rekrutmen teroris di Indonesia tidak seperti di negara-negara lain. Di beberapa negara, semisal di Eropa atau Malaysia, radikalisasi secara online bisa sekaligus dengan proses rekrutmen.

Baca juga : Mewaspadai Pengasong Khilafah Perusak Moral Bangsa

Proses radikalisasi nyata berlangsung melalui media sosial. Akan tetapi, proses rekrutmen pelaku tindakan radikal dan teror di Indonesia dikerjakan secara offline, yaitu dengan tatap muka atau lewat perkumpulan perkumpulan. Adanya kebebasan berekspresi dan berorganisasi, sehingga perekrutan dapat dengan mudah dikerjakan melalui bermacam Peluang tatap muka langsung.

Baca Juga :  Soal Isu Komunisme Menurut Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam

Kecuali itu, kubu ekstrimis tidak berlebihan percaya dengan perekrutan di dunia maya lantaran kerap terjadi penipuan. Sehingga, kanal offline bisa lebih dipercaya.

Sama halnya di lingkungan kampus Diduga jadi tempat tumbuh dan berkembangnya paham radikal. Para perekrut member teroris mencari calon member teroris di lingkungan kampus. Perekrut akan menjumpai calon teroris di masjid, lalu ke tempat tinggalnya (indekos) untuk membicarakan Soal jihad.

Banyak WNI yang terjebak dengan modus ISIS. Banyak cara yang tidak diduga-duga dipakai oleh kubu teroris tersebut untuk merekrut member baru. Modusnya di antaranya menjanjikan upah tinggi, hidup enak, hubungan asmara, menyebarkan video propaganda, dan menawarkan umroh gratis.

Baca juga : Mengenal Masirah Kubra HTI di Indonesia

Kecuali itu kurangnya kontrol dari orangtua juga jadi faktor anak muda terpapar radikalisme. Biasanya orangtua yang menganggap anaknya tampak baik-baik saja di rumah, akan kaget waktu mengetahui anaknya terlibat aksi terorisme.

Karena itu, jika anda tidak ingin orang-orang yang anda cintai terpapar radikalisme, sejak sekarang ada baiknya memberikan wawasan terkait radikalisme dan terorisme. Penyebaran radikalisme dan terorisme sulit terdeteksi ketika diselipkan dalam ceramah-ceramah agama. Masyarakat awam akan ‘terhipnotis’ tidak menyadari apa yang didengar dan dilihatnya adalah paham radikal.

Bagikan ini :