Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Ulama Indonesia Pertama yang Mengkritik Faham Wahabi Melalui Kitab

Page Visited: 672
Read Time:1 Minute, 47 Second

Ulama Indonesia Pertama yang Mengkritik Faham Wahabi di Dalam Karya Kitabnya

Kitab klasik berjudul “An-Nushush al-Isamiyyah fi Radd al-Wahhabiyyah” adalah karya salah seorang ulama Indonesia asal Gresik, Syekh Muhammad Faqih Maskumambang bin Abdul Jabbar. Kitab ini dianggap sebagai karangan berbahasa Arab pertama yang membantah paham Wahabi yang anti-madzhab.

Perlu diketahui, Wahabi ketika itu dikenal sebagai aliran yang menolak eksistensi 4 Madzhab Ahlusunnah wal Jamaah. Kitab ini juga menjadi bukti bahwa permasalahan Wahabisme di dunia Islam sudah muncul sejak lama, karena kitab ini diterbitkan pada tahun 1922.

“Ini kitab pertama ulama Indonesia berbahasa Arab yg mengkritik aliran Wahabi, terbit pada tahun 1922, sebelum lahirnya NU,” ujar Ketua Aswaja NU Center Jombang Ustadz Yusuf Suharto, Kamis (19/02/2015), dalam Pembekalan paham Aswaja yang diselenggarakan MWCNU Mojowarno, Jombang, Jawa Timur.

Selain kitab tersebut, di Tanah Air ada karangan berbahasa Arab generasi awal yang juga mengkritik Wahabi adalah Risalah Ahlissunnah wal Jama’ah karya HadratussyaikhMuhammad Hasyim Asy’ari sang pendiri NU dan Syarah al-Kawakib al-Lama’ah karya Syekh Abi Fadhl Senori (Mbah Fadhol). Keduanya berisi penjelasan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang bertentangan dengan paham Wahabi.

Baca Juga :  Polisi Diraja Malaysia Tetapkan Paham Wahabi Ajaran Terorisme

Yusuf Suharto mengingatkan, kitab ini karangan Kiai Faqih mengingatkan dua aliran yang tidak sesuai dengan Aswaja, yakni Hasyawiyah dan Mu’tazilah.

“Hasyawiyah adalah aliran yang berpegangan dengan dhahir (bentuk luar)-nya teks, walaupun itu bertentangan dengan akal. Misalnya ayat yang jika dibiarkan apa adanya akan mengarah pada pemaknaan tajsim (menyifatkan wujud jasmani) kepada Allah. Sisi lain, mu’tazilah yang bertindak sebaliknya, mengunggulkan akal di atas nash,” urainya.

Adapun Aswaja, lanjut Yusuf, mengaplikasikan syara’ dan akal secara bersama dan proporsional. Menurutnya, paham tekstualis (hasyawiyah) ini bisa mengarah kepada mudahnya seseorang mengeluarkan vonis membid’ahkan atau mengkafir-kafirkan kepada aliran lain yang tidak sepaham. Menurutnya, ini bencana ilmiah, seperti terlihat pada kelompok ISIS yang memahami teks suci secara sepotong-potong dan tekstual.

Pembekalan Aswaja digelar bersamaan dengan acara rapat kerja pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Mojowarno tahun 2015. Kegiatan diikuti segenap pengurus dari unsur Lembaga, Lajnah, serta Badan Otonom NU di lingkungan MWCNU Mojowarno. Acara dibuka oleh Sekretaris PCNU Jombang, Muslimin Abdilla yang sekaligus mengisi materi ke-NU-an. (*)

Bagikan ini :