Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Wakabaintelkam Polri - NU Garda Terdepan Menjaga NKRI

Wakabaintelkam Polri: NU Garda Terdepan Menjaga NKRI

Page Visited: 1755
Read Time:4 Minute, 51 Second

Wakabaintelkam Polri: Hingga Kini NU Garda Terdepan Menjaga NKRI

Wakil Kepala Badan Intelijen Keamanan (Wakabaintelkam) Polisi RI, Irjen Suntana menyampaikan banyak hal penting terkait situasi selama tahun 2020 dan prediksi tantangan tahun 2021 dalam acara Refleksi Dakwah 2020 yang diselenggarakan lembaga dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama secara virtual melalui platform zoom, (Rabu, 30/12/20).

“Saya ingin menyampaikan situasi yang sekarang berkembang apa yang terjadi tahun 2020 dan apa yang akan kita hadapi di 2021 sehingga kita punya satu informasi yang sebagai bahan awal menghadapi situasi yang tepat,” katanya mengawali pembicaraan.

Beberapa situai aktual di tahun 2020 yang beliau sebutkan antara lain, dampak Pemilu 2019, isu penolakan Pilkada 2020, pandemi covid-19, penyebaran vaksin covid-19, dan kasus UU Cipta Kerja omnibus law. Sedangkan beberapa prediksi tantangan di tahun 2021 antara lain, terorisme, kejahatan cyber, separatisme, sengketa kepemilikan tanah, pemekaran wilayah dan kelompok-kelompok yang berusaha mendengungkan khilafah di Indonesia.

Keberagaman Indonesia

Salah satu hal yang ditekankan oleh Bapak Suntana dalam sambutannya adalah mengenai langkah menjaga Indonesia dari perpecahan. Berbagai hal yang terjadi di belahan dunia lain, mempunyai konsekuensi dan imbas pada Indonesia.

“Ada pengaruh yang mungkin muncul, pengaruh yang akan menjadi imbas di tempat kita. Sehingga memang situasi di lapangan situasi Itu sangat dinamis. Perubahan yang sangat cepat, apalagi ada kemajuan teknologi, kemajuan di bidang informasi, dan lain-lain,” ungkapnya.

Menurut beliau, dampak dari kemajuan dan kecepatan teknologi membuat sulitnya memperediksi hal apa yang akan terjadi di kemudian hari. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang aman dan menghargai perbedaan.

Baca Juga :  Lafaz Adzan Diubah ‘Hayya Alal Jihad’, Tidak Ada Dalilnya

Lebih lanjut, beliau menjelaskan kembali hal yang disampaikan oleh ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Said Aqil Siroj, bahwa keberagaman sudah menjadi takdir Indonesia. Menurut Kiai Hasyim Ashari, perbedaan pendapat, perbedaan kebudayaan, perbedaan suku di Indonesia, adalah suatu anugerah yang ada di Indonesia.

“Ini gampang-gampang susah mengelolanya. Dalam pengalaman kami menjadi polisi 30 tahun, kerap sekali dalam beberapa kejadian kami menghadapi satu kejadian-kejadian yang diawali dari perbedaan pandangan, perbedaan pendapat yang dilatarbelakangi kepada budaya, pemahaman agama dan lain-lain,” jelasnya.

Beliau menyampaikan bahwa untuk mengelola dan menghindarkan Indonesia dari potensi konflik, diperlukan satu sinergi yang integratif dan berkelanjutan. Hal ini dimaksudkan agar Indonesia tetap berjalan sesuai dengan keinginan para pendiri. Keberagaman Indonesia harus dinikmati sebagai satu anugerah.

“Terimakasih Pak Kiai Haji Said Aqil dalam refleksi tahun 2020, kami membaca Buya menyampaikan bahwa perbedaan status menjadi energi untuk memproduksi kekuatan sebagai sebuah bangsa dan bukan dijadikan sesuatu untuk menimbulkan perpecahan,” ucap beliau kepada Kiai Said.

Peran Nahdlatul Ulama terhadap Persatuan Indonesia

Dalam sambutannya, Bapak Suntana juga menyampaikan harapan polri terhadap lembaga dakwah Nahdlatul Ulama untuk ikut serta berperan menjaga persatuan Indonesia, serta mendukung pemerintahan dan proses pembangunan.

“Kami dari polri izin menyampaikan bahwa kami tidak pernah meragukan peran NU dari zaman dahulu terhadap kemajuan kestabilan berbagai hal yang ada di Indonesia. NKRI ini sering menghadapi cobaan, dan NU selalu tampil ke depan dengan lembaga-lembaga yang lainnya dalam menjaga Indonesia yang kokoh,” jelasnya.

Baca Juga :  Kodam Sriwijaya: 153 Prajurit Satgas Teritorial Diberangkatkan ke Daerah Rawan

Beliau menyampaikan bahwa saat ini yang diperlukan adalah menjaga masyarakat agar tidak mudah terhasut ajakan kelompok-kelompok radikalisme dan mewaspadai berita hoax. Hal ini bisa dilakukan dengan menasehati keluarga, sahabat, dan tetangga yang sudah terpapar ajaran radikalisme untuk kembali ke ajaran-ajaran Islam rahmatulil alamin.

“Lalu mari kita bersama-sama menguasai orang-orang yang masuk membawa radikalisme dan terkait dengan hoax, mohon izin untuk bisa menekankan kepada keluarga besar kita untuk tidak terlalu cepat men-sharing berita-berita yang memang tidak dibenarkan, yang tidak pasti, hal itu baik apa tidak,” ungkapnya.

Kemudian, beliau juga menyampaikan hal lain yang perlu diwaspadai, yaitu terkait revolusi industri 4.0 dan bahaya media sosial. “Salah satu hal yang harus kita perhatikan adalah kemajuan tentang revolusi industri 4.0. Ini juga memengaruhi etos kerja kita, sehingga ini memengaruhi daya pikir, daya jual,” jelasnya.

Sedangkan menurut beliau, bahaya medsos disebabkan karena saat ini everybody is journalist. Semua orang dapat menulis, mengarang, mengunggah pendapat masing-masing. Akibat dari kemajuan ini, beberapa kelompok memanfaatkan untuk menyebarkan berita-berita hoax.

“Sudah banyak kami dari kepolisian, dan juga mendapat restu dari para tokoh agama untuk memproses kasus-kasus yang menjelekkan tokoh agama, tokoh masyarakat. Dan beberapa orang itu sudah kita laksanakan penindakan. Kemajuan-kemajuan dalam sosmed ini sangat harus kita waspadai,” ungkapnya.

Namun, dengan berbagai kondisi yang ada, Irjen Suntana menyatakan bahwa Indonesia termasuk negara yang selamat, dibandingkan dengan negara-negara yang mengalami perpecahan, seperti Suriah. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh peran para lembaga agama dalam ikut menjaga bangsa dan negara.

Baca Juga :  KAMI Jangan Hanya Koar-koar Tolak UU Cipta Kerja, Buktikan dengan Uji Materi ke MK!

“Terimakasih kepada para sesepuh, para Kiai NU dan Muhamadiyah, kita semua bisa mengelola negara kita tidak terpecah seperti negara-negara yang lain. Kami sangat bersyukur NU dan jajarannya yang lain termasuk Muhamadiyah mempunyai peran yang sangat besar dalam menjaga keberadaban dan menghindari potensi konflik yang diakibatkan perbedaan budaya dan dikotori oleh kemajuan teknologi,” pungkasnya.

Selanjutnya, beliau menyampaikan bahwa kejadian-kejadian yang ada di Indonesia adalah ibarat gunung es. “Mengacu dengan teori gunung es, kejadian-kejadian yang sekarang muncul itu hanya kejadian letusan-letusan yang tidak bisa terkelola dengan bagus tidak baik, tidak sempurna, sehingga timbul kegiatan-kegiatan,” ungkapnya.

Beliau atas nama kepolisian mengharapkan agar lembaga dakwah PBNU, bisa melakukan berbagai kontribusi dari berbagai kerawanan di bawah gunung es tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melaksanakan rekayasa sosial dan pencerahan agama.

“Kami polri sangat berharap lembaga dakwah NU sampai tingkat kecamatan dapat memberikan kontribusi yang besar dalam memberikan situasi yang aman tertib dan terkendali. Kami tidak bisa bekerja sendiri, kami mohon izin ke kapolres, kapolsek untuk segera lagi mengoptimalkan hubungan harmonisasi dengan teman-teman NU, untuk bersama-sama untuk meredam gejolak yang mungkin timbul di 2021,” tegasnya.

Di akhir, beliau memohon doa restu kepada semua pihak agar polisi dapat mengerjakan tugas “Mohon doa restu, semoga polisi bisa mengerjakan tugasnya dalam mengamankan dan mengelola menjaga negara ini secara kondusif,” ujarnya mengakhiri.

Sumber: dakwahnu.id

Bagikan ini :