Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Waspada Ancaman Radikalisme

Waspada Ancaman Radikalisme di NKRI

Page Visited: 1417
Read Time:2 Minute, 52 Second

Waspada Ancaman Radikalisme di NKRI

Radikalisme bisa dengan mudah meningkat menjadi aksi terorisme. Kemarin, sekurangnya 50 orang telah meninggal dipenggal oleh kelompok militan terkait ISIS di Mozambik. Para teroris itu diketahui merupakan jaringan kelompok ISIS yang pernah menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah beberapa tahun silam.

Jaringan Teroris ISIS di Mozambik Penggal 50 Orang Warga Desa

Dikutip dari laporan BBC, Selasa (10/11/2020), para militan teroris tersebut melakukan serangkaian serangan ke desa-desa di Mozambik dalam beberapa hari terakhir. Setidaknya ada satu desa di lapangan sepak bola berubah menjadi “tempat eksekusi”, di mana para penyerang memenggal kepala dan mencincang tubuh korban.

Hari ini, pemerintah Irak mulai berupaya membuka kuburan kuburan massal “Al-Khasfa” di Niniwe, Irak Utara, tempat dikuburnya sekitar 2.000 mayat warga sipil yang dibunuh kelompok ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Dikatakan bahwa kuburan massal itu merupakan kuburan massal terbesar dan paling berdarah yang telah dilakukan teroris ISIS.

Baca Juga :  Akun Palsu Prajurit TNI, TNI AD Minta Usut si Penyebar Kebencian

Baca juga : Dibunuh ISIS, Kuburan Massal 2.000 Warga Sipil Digali Pemerintah Irak

Di Indonesia, eksistensi radikalisme dan terorisme sangat mengancam keamanan dan kedamaian warga. Sudah sering terjadi pengeboman yang dilakukan oleh para teroris. Korban tewasa sudah banyak berjatuhan.

Apakah ancaman radikalisme dan terorisme ini dibiarkan saja oleh pemerintah? Tentunya tidak, bahkkan pemerintah bersama komponen masyarakat sudah berupaya membendung pengaruh propaganda radiklisme.

Menurut Mantan Pejuang ISIS, Syahrul Munif, teroris di Indonesia jangan sampai diberi ruang, karena jika mereka diberi ruang sedikit, maka sangat mudah untuk mereka untuk menghancurkan negara Indonesia ini. Bahaya radikalisme ini bukan isu yang diciptakan pemerintah, namun faktanya radikalisme ini memang sudah menjadi virus yang bisa membahayakan NKRI ini.

Lebih lanjut Syahrul menjelaskan, virus ISIS pada waktu dirinya masih sebagai anggota ISIS, adalah memandang negara lain kafir dan hanya dia sendiri yang benar. Ketika itu merupakan fatwa dari ISIS apabila tidak mampu berjihad maka diwajibkan kepada semua anggotanya untuk berjuang dengan jalan apapun dan dimanapun sesuai dengan kemampuan masing–masing.

Baca Juga :  Benarkah Mahasiswa di Jakarta Gelar Demo Tuntut Jokowi Turun Presiden ?

Syahrul Munif menceritakan sejarah bagaimana dirinya dahulu bisa bergabung dengan ISIS di Suriah, yang diawali ketika ia juga aktif di lembaga dakwah kampus dan saat itu ia memiliki empati yang besar kepada warga Suriah yang menurutnya sering tertindas.

“Dan kami pada saat itu memiliki niat jihad fi sabilillah dan membela saudara-saudara kita di Suriah. Di Suriah kita diajari dan dilatih menggunakan senjata seperti AK47, bagaimana cara merakit dan menggunakan senjata. Dan di Suriah saya untuk pertama kalinya mendeklarsikan Khilafah. Pada saat itu, ISIS sangat sering berbenturan dan berperang dengan komunitas Islam lain sehingga menimbulkan pertumpahan darah antar sesama umat Muslim. Dan di sini ISIS sudah merasa mereka sudah sempurna sehingga menganggap organisasi ISIS adalah organisasi Islam sedangkan yang lainnya adalah kafir,” beber Syahrul.

Aksi seperti penyerangan bom, penyerangan terhadap polisi, penyerangan terhadap TNI itu merupakan fatwa dari ISIS bahwa ketika pintu hijrah tertutup maka dengan cara berbai’atlah jalan satu-satunya. Hampir 80% kalangan anak muda dan kaum milenial pada saat ini yang terpapar faham–faham Khilafah merupakan efek negatif dari perkembangan teknologi.

Baca Juga :  Kritik dari KAMI Tendensius dan Tidak Obyektif ?

“Pada zaman ini para anak muda dan kaum milenial masih terlalu mudah untuk menelan ilmu tanpa adanya pembelajaran lebih lanjut, sehingga dengan mudahnya menerima informasi dan ilmu yang tidak benar tentang ajaran Islam. Karena mereka menganggap ajaran Islam di Timur Tengah ini sudah termasuk ajaran Islam yang terbaik, akan tetapi itu semua tidak benar, (di Timur Tengah) masih banyak bentrok antar umat islam itu sendiri,” ujar Syahrul Munif.

Sumber: (https://inisiatifnews.com/nasional/2020/10/12/74819/tangkal-gerakan-radikal-di-era-teknologi-informasi/)

Waspada Ancaman Radikalisme
Bagikan ini :