Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Zaman Ketika Caci Maki dan Menghina Dianggap Berpahala 1 copy

Zaman Ketika Caci Maki dan Menghina Dianggap Berpahala

Page Visited: 1241
Read Time:4 Minute, 54 Second

Di zaman internet yang melahirkan bermacam jenis medsos seakan sangat menguntungkan bagi mereka yang memiliki hobi caci maki dan menghina. Sebutlah di Facebook, di media sosial yang satu ini paling banyak ditemukan forum caci maki dan saling menghina. Banyak group FB yang memberikan ajang saling caci maki, seakan-akan mencaci dan memaki itu mendapat pahala besar dari Allah Swt.

Di forum tersebut, untuk menjatuhkan lawan debatnya, mereka dengan enteng mulut meneriakkan kalimat caci maki yang sangat miris jika didengar oleh kita yang biasa berperilaku sopan santun terhadap sesama. Bahkan dulu, di awal-awal Facebook trending di Indonesia, seringkali caci maki tersebut berlanjut jadi ajang adu jotos di dunia nyata. Banyak kajadian adu jotos akibat saling menghina dan caci maki di Facebook.

Bahkan akhir-akhir ini ada orang-orang yang menjadi terkenal karena punya hobi caci maki di medsos. Sebutlah nama semisal Sugi Nur Raharja (Gus Nur) dan Soni Eranata (Maheer Ath-thuwailiby). Dua orang ini menjadi sangat terkenal karena hobinya mencaci, memaki dan menghina.

Ternyata kondisi akhir zaman yang banyak bertebaran caci maki ini sudah jauh-jauh hari diprediksi oleh Sahabat Nabi akan terjadi. Sahabat Nabi tersebut bernama Abdullah Ibnu Masud. Nah, bagaimana ceritanya, dan bagaimana implikasi dari cacian dan makian tersebut di kehidupan akhir zaman, mari kita ikuti penjelasan Muhammad Faizin dalam tuliasnnya berikut ini….

Baca Juga :  Tanda-tanda Ulama, Ciri Orang yang Bisa Disebut Ulama

Ketika Caci Maki Dianggap Ibadah Paling Istimewa

Abdullah Ibnu Masud adalah orang keenam yang masuk Islam setelah Nabi Muhammad SAW. Ia merupakan sahabat Nabi yang memiliki keistimewaan karena suaranya yang merdu saat melantunkan ayat suci Al-Qur’an.

“Barangsiapa yang ingin mendengar Al-Qur’an tepat seperti diturunkan, hendaklah dia mendengarkan dari Ibnu Ummi Abidin. Barangsiapa yang ingin membaca Al-Qur’an tepat seperti diturunkan, hendaklah dia membacanya seperti bacaan Ibnu Ummi Abidin,” kata Rasulullah.

Ia juga merupakan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang mumpuni dalam bidang ilmu hadits dan memiliki keimanan yang kuat dalam berislam.

Suatu saat ia berkata: يكون في أخر الزمان أقوام أفضل أعمالهم التلاوم بينهم يسمون الأنتان

“Akan ada di akhir zaman suatu komunitas yang menganggap bahwa ibadah yang paling istimewa adalah menang caci maki, menjelekkan satu sama lain. Mereka itu disebut generasi busuk.”

Kalimat Abdullah Ibnu Masud ini merupakan prediksi terhadap masa depan yang akan terjadi pada umat Islam. Walaupun bukan seorang dukun atau peramal, hadits Nabi dan perkataan para sahabat serta ulama terdahulu banyak yang terbukti dan menjadi kenyataan.

Pada zaman yang disebut memiliki generasi busuk ini, Nabi juga sudah menyampaikan sabdanya bahwa banyak umat yang tidak patuh dan menjauh dari para ulama sehingga Allah akan menurunkan tiga macam bencana kepada umat Islam.

Bencana pertama yakni diangkatnya keberkahan oleh Allah SWT dari setiap apa yang diusahakan oleh umat jenis ini. Banyak usaha-usaha yang dilakukan bukan menghasilkan hal positif namun sebaliknya hanya mendatangkan kesengsaraan dalam hidupnya.

Baca Juga :  Sejak Para Pentolan KAMI Ditangkap, KAMI Seakan Menghilang dari Publik

Bencana yang kedua adalah munculnya para penguasa yang dzalim yang tidak amanah dalam mengemban tugasnya. Banyak orang berlomba-lomba memperebutkan jabatan dengan memghalalkan berbagai macam cara, obral janji tanpa bukti, yang pada akhirnya umat yang akan menanggung kesengsaraan.

Bencana ketiga adalah umat tidak bersama para ulama ini akan meninggal dalam keadaan tidak membawa keimanan dan su’ul khatimah. Amal ibadah mereka pun tidak akan diterima oleh Allah dan akan menjadi ibadah yang sia-sia.

Ketika melihat prediksi ini, semakin nyatalah apa yang disabdakan oleh Nabi dan perkataan dari Abdullah ibnu Mas’ud terjadi pada era saat ini. Di tengah banjirnya informasi akibat perkembangan teknologi internet khususnya media sosial, dengan mudah kita jumpai orang yang menghujat, mencaci maki, dan mengeluarkan ujaran kebencian.

Ini bukan hanya dilakukan oleh orang awam yang tidak memahami dan terdidik dengan ilmu agama. Banyak orang yang mengaku ustadz, dan berasal dari keluarga terpandang dengan mudahnya mengumbar kata-kata yang tidak pantas di berbagai momen dan bisa di akses oleh masyarakat umum di mana pun dan kapan pun.

Dengan bangga dan mudahnya orang memberi stempel bahwa apa yang dilakukannya ini sesuai dengan tuntunan agama dan layak diperjuangkan sebagai wujud ibadah menegakkan agama Allah. Ujaran kebencian dan propaganda selalu menjadi perhiasan mulut dan tingkah lakunya.

Baca Juga :  Polisi Ungkap KAMI Mungkin Terlibat Demo Rusuh Tolak UU Cipta Kerja di Medan

Padahal jelas, misi Nabi Muhammad diturunkan ke muka bumi ini untuk memperbaiki akhlak manusia.

Sebagaimana haditsnya:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.”

Tentu semua ini menyadarkan kita untuk senantiasa mengedepankan akhlak dalam segala aktivitas hubungan kita dengan orang lain. Jangan sampai ilmu dipentingkan dari pada akhlak karena posisi akhlak berada di atas ilmu. Jangan sampai Islam kita hanya mengedepankan tampilan fisik semata tanpa memperdalam esensi dari beragama itu sendiri.

Jika hal ini terjadi, Nabi pun telah mengingatkan bahwa suatu saat kondisi Islam hanya tinggal nama saja. Orang banyak mengaku beragama Islam namun nilai luhur dari beragama dinafikan. Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi bersabda:

يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لا يَبْقَى مِنَ الإِسْلامِ إِلا اسْمُهُ , وَلا يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلا رَسْمُهُ , مَسَاجِدُهُمْ يَوْمَئِذٍ عَامِرَةٌ , وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى , عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ , مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ , وَفِيهِمْ تَعُودُ

Artinya: “akan datang pada manusia di kala itu Islam tidak tinggal melainkan namanya dan Al-Qur’an tidak tinggal melainkan tulisannya, masjid-masjidnya bagus namun kosong dari petunjuk, ulama’nya termasuk manusia paling jelek yang berada di bawah langit, karena dari mereka timbul beberapa fitnah dan akan kembali kepadanya.

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/124824/ketika-caci-maki-dianggap-ibadah-paling-istimewa?fbclid=IwAR1U1MYL7heNfKt9k_-15sW5bgkYwF6ptlsyIBnu6-rYxr06vT2g1Uoy1t0

Bagikan ini :